Jumat, 06 Agustus 2010

HABIB SYECH UMAR SUMBA & KH.HASBULLAH

I. ASAL MULA KEDATANGANNYA.
Pantai Kedung Cowek Kecamatan Kenjeran – Surabaya, tidak hanya memberi keindahan dimata para wisata saja, akan tetapi juga mengisahkan masa lampau tentang seorang Mujahid (Pejuang Islam) yang pernah singgah dan berdiam di kawasan itu, tidak lain adalah KH. HASBULLAH. Selain itu terdapat pula makam auliya'Allah yang berasal dari pulau Sumba (NTT)HABIB SYECH UMAR SUMBA adalah Seorang Mujahid, sekitar tahun 1890 M di pinggir pantai Kedung cowek ada seorang mayat yang tidak diketahui jati dirinya. Oleh warga dibawalah mayat itu ke tengah laut agar tidak terdampar pi tepi pantai kedung cowek dan bisa mengikuti arus air laut keluar daerah.
Akan tetapi anehnya, warga yang membuang mayat tersebut belum sampai di tepi pantai itu mayat tersebut sudah lebih dahulu tiba di tempat semula. Mayat tadi dibawa lagi untuk dibuang lebih jauh lagi, kenyataannya sebelum warga sampai ke tepi, mayat sudah sampai seperti semula. Kemudian mayat itu dibuang yang paling jauh dan melawan arus, akan tetapi sebelum warga sampai ke tepi pantai, mayat tersebut sudah lebih dulu tiba di tempat semula.
Hal itu telah di lakukan hingga tiga kali pembuangan, namun hasilnya tetap saja. Akhirnya salah seorang warga ada yang melaporkan dan meminta pendapat kepada KH. Hasbullah. Karena KH. Hasbullah adalah seorang Wali yang sudah kesohor dan Mutawattir tentang kewaliannya, dan ada yang berpendapat bahwa Beliau adalah Wali Abdal dan di dalam tingkatan yang tinggi. Sebab semasa muda (Bujang) sudah terlihat tanda-tanda kewaliannya.
Oleh KH. Hasbullah warga di beri wejangan bahwa mayat yang di buang tadi tidak sembarang orang, walaupun sudah wafat tetap di keramatkan, di mulyakan dan di agungkan oleh ALLAH SWT. Itulah Wali.
Di dalam Al-Qur'an di terangkan :
"Walaa tahsabannalladzi na qutilu fi sabilillahi amwaata. Bal ahya'u 'indarobbihim yur zaqum"
Artinya : " Jangan ALLAH itu mati, akan tetapi hidup berdampingan dengan ALLAH diberi beberapa kenikmatan"kau kira, jangan kau sangka orang-orang yang mati dalam membela agama"
"Walaa taqulu liman yuqtalu fi sabilillah amwat bal ahya'u walakin laa tasykurun"Artinya : "Janganlah kau berucap dan berkata orang yang mati di jalan ALLAH adalah mati, akan tetapi hidup sedangkan kamu tidak menyadari".Oleh KH. Hasbullah disuruhnya menggali kubur, namun secara tiba-tiba di dalam kubur sudah ada Jedingan (tempat untuk mayat). Dan pada waktu mayat di mandikan, Masya'Allah bau harum melebihi minyak kasturi semerbak mewangi sehingga air percikan untuk memandikan sampai bertahun tahun masih berbau harum mewangi.
Setelah di kafani, di sholati dan di kebumikan malamnya KH. Hasbullah berbincang bincang dengan Habib Syech Umar Sumba bahwa Beliau adalah berasal dari tanah Sumba sebagai mujahid untuk meneruskan perjuangan Rosulallah SAW.
Pada waktu itu makam belum ada cungkup (atap), banyak kejadian dan kegho'iban serta keganjilan-keganjilan.
Kalau ada orang-orang yang buang hajat (kencing) di sekitar makam, seketika itu orang tersebut kondor mulas-mulas perutnya. Kalau ada orang-orang yang naik dokar tidak turun, maka akan ambruklah dokarnya. Ada warga yang bernama wak Djam melempar kambing mengenai makam, seketika itu pula tangan dan kakinya kithing (cingkrux)
Dan pernah pesawat terbang lewat di atas makam, maka pesawat tersebut langsung jatuh, hal sudah terjadi dua kali.
Akhirnya KH. Hasbullah mempunyai inisiatif, lebih baik makam itu di beri pembatas, artinya di beri cungkup (rumah beratap) yang dahulu terbuat dari kayu (dan yang sekarang ini) sudah tiga kali di rehab dan di benahi (di bangun). Setelah di beri cungkup, maka amanlah kejadian-kejadian yang telah di alami itu.
Itulah Wali yang betul-betul di keramatkan oleh ALLAH SWT, di dalam kitab tauhid di terangkan :
"Wa astbitan lil'auliya'karomah waman nafa ha fanbidzan kalamah"Artinya : " Kita sebagai seorang muslim, wajib mempercayai bahwa Wali itu mempunyai kekeramatan. Kalau kita tidak percaya lebih baik diam seribu bahasa".
Takut-takut Hadist Rosulullah nanti terjadi :
Man 'adali waliyan faqod adzan tuhu bil harbi"Artinya : "Siapa yang menghina (menyepelekan) wali, orang ini akan di musuhi (di Adzab) oleh Allah sebelum mereka mati"
Apalagi kehebatan KH. Hasbullah yang masih remaja sudah terlihat kewaliannya. Pada waktu Beliau mondok di pesantrennya KH. Cholil Bangkalan. Semua santri di suruh oleh KH. Cholil supaya melihat Tonel (ludruk), jika tidak mau akan di pukulinya. Akan tetapi KH. Hasbullah tidak mau menonton, meskipun di pukuli sampai mati, Beliau tidak akan pergi nonton, padahal sahabat dan teman-temannya berangkat semua. Kosonglah pondok tersebut, yang tinggal hanya KH. Hasbullah.
Padahal KH. Kholil hanya menguji sampai dimana kegigihan kendali iman santri akan menuruti kehendak hawa nafsunya. Tidak lama kemudian ketika santri santri pada tidur ada cahaya gemerlap memancar diantaranya salah satu santrinya. Oleh KH. Cholil didekatilah cahaya tadi dan santri yang bersinar di ikat (di bundeli) sarungnya dan di ikatkan sampai ke kakinya.
Pada waktu menjelang adzan shubuh dibangunkanlah para santrinya untuk melakukan sholat, ternyata yang ada tanda dari KH. Cholil adalah pemuda yang bernama Hasbullah. Tapi, penemuan kewalian Hasbullah ini hanya di simpan dalam hati KH. Cholilsendiri, tanpa di beritahukan kepada siapapun walaupun pada santrinya.
Ketika para santri kerja bhakti membuat sumur, satu persatu menggali sampai mencapai kedalaman sumber. Sampailah pada giliran Hasbullah akan menjelang senja, oleh teman-teman sesamanya di goda. Tangga yang di gunakan untuk menggali sumur di tarik ke atas dengan tujuan agar Hasbullah tidak dapat melaksanakan sholat maghrib. Namun ketika teman-teman yang mengganggunya masih mandi, Hasbullah sudah brada di belakang KH. Cholil melaksanakan sholat. Mengetahui hal ini, teman-temannya (taslim) tidak lagi menggoda kepada Hasbullah yang nampak akan tanda-tanda kekeramatannya.
II. KH. HASBULLAH DI GODA.
Suatu ketika Hasbullah mondok di Pesantren Dukun– Gresik, Beliau hanya menggunakan (membawa) satu sarung. Saat Hasbullah mencuci sarungnya, setelah mencuci, sarungnya di jemur, sementara Hasbullah menuggu di tempat mandi hingga kering sarungnya, tapi tiba-tiba teman-temannya menggoda dengan cara menceburkan sarungya ke dalam air agar Hasbullah tidak keluar-keluar dari kamar mandi hingga kedinginan. Perbuatan ini oleh teman-temannya dilakukan berulang ulang kali sampai tiga kali, namun Hasbullah tidak marah sedikitpun. Terakhir sarung tadi di keringkan Hasbullah di atas bambu dengan ketinggian kira-kira Sembilan meter. Pada saat mengambil sarung yang sudah kering, bambu tadi di panggilnya untuk merunduk dan merebahkan seluru rantingnya. Setelah itu di ambillah sarung itu oleh Hasbullah. Mengetahui keajaiban dan kehebatan Hasbullah, seluru santri tunduk takluk bertekuk lutut.
Pada suatu hati, teman-temannya memancing ikan di Bengawan solo yang dekat dengan Pesantren. Teman-teman Hasbullah kadang-kadang hanya mendapat beberapa ikan saja, sedangkan anehnya, Hasbullah mendapat ikan yang sudah matang, kadang sudah gorengan dan kadang sudah godokan.
Melihat keluar biasaan dan keistimewaan Hasbullah, sekuruh teman santrinya bertambah hormat dan mengaguminya.
Pernah Hasbullah di ajak bermain sembunyi-sembunyian (das-das an = bhs gresik ), semua kawan-kawannya mencari kesana kemari sampai keringat bercucuran. Karena di cari tidak ketemu juga, akhirnya mereka putus asa dan tiba-tiba muncullah Hasbullah dalam "kendi".
III. SETELAH KH. HASBULLAH BERUMAH TANGGA.
Setelah keluar dari Pesantren dan berumah tangga, maka mencuatlah kesohoran kewaliannya, kemasyhuran, dan kekeramatannya, sehingga banyak tamu-tamu yang datang meminta tolong, petunjuk dan meminta advis untuk menuju jenjang yang lebih tinggi, lebih mulya dan lebih sempurna.
Pada suatu hari, di Bulak banteng ada orang yang bernama H. Yasin dan H. Sholeh, anak dan bapak bertengkar. Bapaknya akan di tembak dengan pistol. KH. Hasbullah di kediaman Kedung Cowek, atas kekeramatannya Beliau mengetahui bahwa di Bulak banteng ada perselisihan antara anak dan bapak. Cepat-cepat KH. Hasbullah menyuruh putranya yang bernama Ahmad untuk menjemput kedua orang yang sedang berengkar tadi.
Tidak lama kemudian keduanya datang di hadapan KH. Hasbullah yang bertepatan di Rumah Beliau banyak tamu. Setelah anak dan bapak di persilahkan duduk, maka datanglah satu tamu di belakangnya.
Setelah duduk, KH. Hasbullah meminta tolong kepada tamu tadi untuk mencarikan barang yang ghaib di dalam laut, tidak lama kemudian tamu tadi datang dengan membawa berita : "Kyai… ! di dalam laut ada barang yang aneh, banyak orang yang datang pergi ke Masjid ". "Tidak itu, ada lagi ! " kata KH. Hasbullah. Engkau kembali dan cari lagi ke dasar laut. Akhirnya tamu itu kembali mencari lagi di dasar laut, kemudian Ia kembali dan melaporkan kepada KH. Hasbullah yang ke dua kalinya :" Ada Kyai…! Barang yang aneh di dasar laut, ada seekor sapi (lembu) makan rumput". Bagaimana kata KH. Hasbullah, bukan itu masih ada lagi, Engkau cari lagi. Akhirnya di cari dan ketemu seekor Ular berkepala Manusia. "Bagaimana yang ke tiga ini Kyai…?" Tanya tamu itu. Bukan itu. Engkau cari lagi, jata KH. Hasbullah. Akhirnya keempat kalinya, Ia temukan seorang pria yang sedang duduk-duduk di atas dipan (amben : bhs jawa) di dalam dasar laut. Berkata KH. Hasbullah:"Sampeyan (Engkau) bawa orang itu ke sisni". Tidak lama kemudian datanglah kedua orang tadi di hadapan KH. Hasbullah dengan mengucap salam.
Setelah di persilahkan duduk, maka KH. Hasbullah bertanya kepada orang tadi (yang duduk di atas dipan di dasar laut), "Anda itu dari bangsa Jin atau bangsa Syaithon, bangsa Malaikat atau bangsa Manusia ?" Bahaimana jawab si tamu tadi ? " Kyai…, saya ini tidak dari bangsa Jin, tidak dari bangsa Syaithon, juga tidak dari bangsa Malaikat, akan tetapi saya ini dari bangsa Manusia.
KH. Hasbullah selanjutnya bertanya :" Anda ini mempunyai kekeramatan apa hingga bisa hidup di dasar laut ?"." Saya ini ibarat kemiri yang dalamnya tidak ada apa-apanya" jawabnya. Mengapa Anda bisa hidup di dasar laut ? Begini Kyai ceritanya : "Pada waktu Ibu dan Bapak saya masih hidup (Bapak buta matanya dan Ibu cacat kakinya), selama 45 tahun lebih saya merawat kedua orang tua saya baik memandikan, wudlu, satu per satu saya yang menggendongnya bahkan makan sehari harinya saya yang mencarikannya.
Saya pelihara kambing, setelah besar saya jual untuk keperluan orang tua saya. Pada waktu ibu sakit keras menjelang ajal, beliau berdo'a : "Nak, tidak kurang-kurang kamu merawat Ibu. Aku tidak bisa meninggalkan apapun, hanya Ibu berdo'a, mudah-mudahan kau hidup nikmat dan tidak bisa di ketahui orang lain.
Tidak seberapa lama 40 harinya menyusul Bapak sakit keras. Sebelum meninggal, Bapak berdo'a :"Sudah cukup kau merawat dan mengabdi kepadaku. Mudah-mudahan kau di beri hidup lezat oleh Allah SWT tetapi tidak diketahui masyarakat. Setelah kedua orang tuaku meninggal,pikiranku jadi langsung stress, trauma, seakan dunia ini menjadi sempit dan kehidupan saya tidak ada artinya sama sekali Kyai". Pada waktu antara Ashar dan Maghrib, menjelang matahari terbenam, saya berjalan ke tepi laut ada sebuah dipan dan saya sholat di situ.
Setelah saya Sholat, dipan tadi melayang dan langsung ke dasar laut bersama diriku. KH. Hasbullah bertanya lagi :"Lantas yang engkau makan aoa ?". Kyai…, sebelum matahari terbenam, datanglah kelelawar ke hadapan saya mengeluarkan anggur, roti dan keju dari duburnya. Dari mulutnya keluar susu dan madu. Mendengar obrolan dan perbincangan antara KH. Hasbullah dengan orang tadi, maka kedua orang (Bapak dan anak /H. Yasin dan H. Sholeh) menangis tersedu sedu sambil berangkulan. Sang anak meminta maaf sambil menundukkan kepala dan dengan jeritan tangis melelehkanair mata.
Inilah kehebatan KH. Hasbullah memberikan nasehat umat manusia dengan cara yang ghaib, Siapa yang di mintai tolong oleh KH. Hasbullah untuk mencari orang yang berada di dasar laut ? Tak lain adalah Nabi Allah Nabi hidir AS.
IV. TERJANGKIT WABAH PENYAKIT GANAS.
Pernah suatu ketika Kedung Cowek terkena wabah penyakit (Thoun) yang mendadak mati, yang satu belum di mandikan yang lain sudah meninggal, yang lain belum di kubur, yang satu menyusul, yang satu belum di apa-apakan sudah banyak yang bergelimpangan.
Akhirnya KH. Hasbullah mengajak delapan santrinya pergi jam dua malam di ujung desa tiba-tiba sudah ada orang yang setinggi pohon bambu memakai kopyah kuncir Turki dan memegang pedang panjang
Lalu KH. Hasbullah memberi salam dan bertanya : "Siapa sampeyan ini ?" Saya adalah Ratunya penyakit Thoun. Saya minta tolong sampeyan (Anda) laporkan kepada Allah agar jangan orang Kedung Cowek saja yang di serang Thoun, nanti siapa yang melakukan ibadah, keesokan harinya Kedung Cowek sudah aman tidak ada korban lagi dan berganti ke daerah lain dan sekitarnya.
Memang KH. Hasbullah seorang Wali dan Ulama' yang benar-benar mementingkan umat, menolong masyarakat baik dengan do'a maupun hartanya. Hal inisesuai denganpribadi Rosulullah SAW :
Walakin asyarna 'alaanfusina Artinya : "Dan saya tidak mementingkan pribadisaya"
Pernah KH. Hasbullah keluar malam dengan santrinya yang bernama Sarkawi. Tiap-tiap rumah di Tanya, tiba-tiba ada rumah kecil terjepit beratapkan ilalang di huni Mukhayyah yang fakir miskin. Pada waktu KH. Hasbullah menjerit :"Ya ALLAH, mudah-mudahan orang ini Kau beri sama-sama sepertiorang Kedung Cowek lainnya. Keesokan harinya ada orang yang bernama Wak Nandi yang memberikan langsung rumahnya kepada Mukhayyah.
Dan setiap harinya KH. Hasbullah selalu member uang saku (uang jajan) kepada anak yatim di desanya.
Pernah Belanda membikin meriam sebanyak tujuh buah, setelah selesai di cobanya sehari penuh. Ternyata tidak ada yang berbunyi sampai ia akan bunuh diri, kemudian ada orang yang bernamaDul Ali untuk memberi saran dan mengajak kerumah KH. Hasbullah agar meminta izin, maka berbunyilah neriam itu sehingga Belanda memberi julukan "Kyai Nomor Satu"
Juga pernah Belanda mengalirkan air dari blumbang ke tangsi yang melalu pipa besar, tetapi yang keluar bukan air melainkan lumpurnya. Ketika Belanda meminta restu kepada KH. Hasbullah, maka hilanglah lumpurnya dan keluarlah air yang jernih dan seketika itu pula Belanda menyatakan masuk Islam dengan hati tulus ikhlas.
Setengah dari kekeramatan KH. Hasbullah lagi, yaitu pada waktu orang Nambangan memelihara kambing yang sedang memperbincangkan (Ngrasani=bhs jawa) KH. Hasbullah bahwa Ia (KH. Hasbullah) tidak pernah buang hajat (berak), seketika KH. Hasbullah keluar rumah dan duduk-duduk di oro-oro (semak-semak). Setelah bangkit dari duduknya, penggembalakqambing langsung ke tempat KH. Hasbullah tadi. Maka di lihatlah keras lalu di pukullah biji itu dengan batu dan terlempar. Seketika itu kemaluannya kondor dan akhirnya ia di gendong bapaknya di bawa ke rumah KH. Hasbullah untuk meminta maaf sekaligus meminta obat. KH.Hasbullah seketika itu lebih dahulu berkata : "Wong Saya tidak berak di anggap berak". Sambil mengusap-usap kemaluan penggembala kambing itu mendadak langsung sembuh.
Pernah KH. Hasbullah duduk di tepi pantai bersama santrinya yang bernama Ponidin, kata KH. Hasbullah :"Din, Din…, bisakah kamu menghentikan kapal yang berada di tengah laut itu ?". " Kalau Pak Kyai yang mengizinkan Insya'Allah bisa", Jawab Ponidin. Lalu kapal itu di tunjuk (di tuding) oleh Ponidin dari tepi pantai, seketika itu pula kapal berhenti dan tidak jalan.
KH. Hasbullah kalau pulang ke Madura, khusunya ke Tebbul Kec. Sukolilo Beliau naik datas kulit kacang, kadang-kadang naik Kuda Sambar Angin. Sebab KH. Hasbullah memang keturunan bangsa Madura dari Bujuk (Sunan) Rakah. Sedangkan kalau ke Batu Ampar atau perjalanan yang jauh biasanya naik Sapu Angin (Thoyyul Ard).
Pernah anaknya bernama Hj. Maimunah ingin tahu Batu Ampar, maka di suruhlah anaknya memejamkan mata dan merangkul pundaknya. Belum ada dua menit perjalanan, di suruhlah membuka matanya, Anaknya takut karena di hadapannya sudah banyak nisan orang mati. Kata KH. Hasbullah :"Kau ingin tahu Batu Ampat, ya inilah Makam Batu Ampar".
Pernah pula istrinya yang bernama Nyai Mardiyah dan Menantunya, Hj. Fatimah pergi naik Haji. Dengan beberapa menit setelah sholat Maghrib Beliau menjenguk (sambang) ke Makkah dan pulang membawa Godo Kurma yang masih hangat, karena Nyai Mardiah kesukaanya adalah membikin kue "Godo Kurma".
Ketika Nyai Mardiyah sakit di rumah dan ingin sekali makan Godo Kurma (pada waktu itu kurma sulit di cari), Maka keluarlah KH. Hasbullah dari rumah. Beberapa menit kemudian Beliau sudah kembali dengan membawa Kurma yang masih ada tangkainya.
Pernah Jama'ah (Rombongan) Kedung Cangkring – Gempol berkunjung (silaturahmi) ke KH. Hasbullah di pimpin Bapak Suhaimi, mereka memperbincangkan sesama temannya yang pada waktu itu di beri hidangan makan tanpa ada lalapnya. "Seandainya setelah makan ini ada lalapan jambu kedung cangkring, alangkah tambah nikmatnya makanan ini. Namun sayang kita ke sini tidak membawa jambu dari rumah. Seketika itu KH.Hasbullah menyuruh Khodamnya menyuguhkan jambu kedung cangkring kepada tamu tamunya. Padahal KH. Hasbullah berada di belakang rumah dan tidak mendengar perbincangan mereka.
Perlu di ketahui makam Waliyullah ini sekitar tahun 1977 roboh sebab di sekitar daerah makam terkena angin puyuh(angin rebut) banyak pepohonan yang besar tumbang, sehingga rumah-rumah makam rusak hancur total karena tertimpa pohon besar-besar. Tapi anehnya pohon-pohon itu sama sekali tidak mengenai dan tidak menempel sedikitpun di atas makam, apalagi mengenai batu nisan itu.
Demikian kisah Perjalanan Waliyullah akan kehebatan dan kekeramatan Habib Syech Umar Sumba walaupun telah wafat dan keluar biasaan dari pribadi KH. Hasbullah sebagai Wali Allah.
Dengan menceritakan dan mendengar Sejarah Waliyullah HABIB SYECH UMAR SUMBA – KARAMULLAH KH. HASBULLAH, berpegang teguhlah kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rossul, agar kita senantiasa dalam limpahan Rahmat dan pertolongan Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah SWT :
"Wa'atii'ullaha waarrosuulalla la'allakumturhamun")Artinya : "Dan taatlah kepada Allah dan Rosul-Nya agar kamu sekalian mendapat rahmat".
Dan sesuai dengan Sabda Nabi kita Nabi Muhammad SAW :
"Dengan menceritakan para-para Nabi Allah itu termasuk Shodaqoh",
"Dengan menceritakan Orang-orang yang Sholeh itu termasuk bisa menghapus dosa-dosa kita,"
"Dengan menceritakan Suatu kematian, itu bisa mendekatkan diri kita kepada Surganya Allah SWT."
"Dan Mudah-mudahan dengan kecintaan kita pada Wali-wali Allah, kelak dengan datangnya hari Qiamat Kita dapat di kumpulkan dengan Wali-Nya sesuai Sabda Nabi Muhammad SAW " Akan di kumpulkan kelak pada hari Qiamat bersama orang yang di cintainya". Amiien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar